Lensa MancaLensa Terkini

Orang Rusia Jadi Lebih Negatif Soal LGBTQ

Sikap orang-orang Rusia terhadap komunitas LGBTQ saat ini telah tumbuh lebih negatif dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terbukti lebih dari dua pertiga responden dalam sebuah survei mengatakan mereka merasa perlu untuk membatasi hak-hak masyarakat.

Seperti dilansir surat kabar Kommersant, Kamis (31/8), dari hasil jajak pendapat, jumlah orang Rusia yang percaya hak-hak LGBTQ harus dibatasi telah tumbuh secara signifikan selama dekade terakhir.

Tahun ini, sekitar 62% mengatakan mereka mendukung pembatasan hak-hak orang gay, sementara 55% mendukung pembatasan hak-hak transgender. Sebagai perbandingan, dua tahun lalu, 42% orang Rusia menentang gagasan orang homo seksual dan hetero seksual memiliki hak yang sama. Lalu, pada 2013, hanya 19% yang secara terbuka berbagi pandangan ini.

Dalam jajak pendapat, yang mensurvei 1.600 orang di seluruh negeri, responden juga ditanya asosiasi apa yang mereka miliki soal ‘nilai-nilai tradisional’ dan ‘nilai-nilai Eropa’, dan bagaimana perasaan mereka tentang anggota komunitas LGBTQ.

Sebagian besar responden tersebut mengatakan mereka mengaitkan nilai-nilai tradisional Rusia dengan patriotisme, keluarga, menghormati orang tua, cinta untuk negara Anda, iman Kristen Ortodoks, kebebasan, dan keadilan. Sementara ungkapan ‘nilai-nilai Eropa’ dikaitkan dengan kebebasan, demokrasi, toleransi, LGBTQ, homo seksualitas, dan pernikahan sesama jenis.

Saat ditanya batasan seperti apa yang harus ada untuk orang-orang LGBTQ, 25% responden mengatakan mereka harus dilarang mempromosikan preferensi seksual mereka, 13% mengatakan mereka seharusnya tidak diizinkan untuk secara terbuka menampilkan perasaan mereka dalam bentuk pelukan dan ciuman, dan 11% melangkah lebih jauh dengan menyarankan bahwa mereka harus diusir dari negara mereka.

Survei tersebut juga mencatat bahwa tuntutan untuk membatasi hak-hak LGBTQ sebagian besar berasal dari orang-orang berusia di atas 45 tahun. Pada saat yang sama, hampir seperempat responden juga bersikeras bahwa Rusia tidak secara hukum menekan hak-hak individu anggota LGBTQ.

Untuk menangani masalah tersebut, Rusia sendiri telah memperketat pembatasan promosi nilai-nilai LGBTQ kepada anak-anak. Moskow awalnya melarang ‘propaganda LGBTQ’ yang ditujukan untuk anak di bawah umur pada tahun 2013.

Dan pada Desember 2022 lalu, Presiden Vladimir Putin secara resmi menandatangani undang-undang yang memperkenalkan denda besar bagi siapa pun yang dinyatakan bersalah mempromosikan ‘hubungan seksual non-tradisional’, pedofilia, dan transgenderisme di kalangan anak di bawah umur maupun orang dewasa melalui buku, bioskop, media, dan situs web.

Bagi siapa pun yang ketahuan melakukan pelanggaran tersebut, mereka dapat didenda hingga 400.000 rubel (hampir Rp 90 juta), di mana denda tersebut jauh lebih tinggi untuk organisasi atau jurnalis yang melanggar peraturan.

Penulis: Chumaida

Editor/redaktur: Rizky / Wara

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *