Lensa MancaLensa Terkini

Produk HDPE Indonesia Bisa Masuk Filipina Tanpa Tindakan Pengamanan

Produk plastik polietilena densitas tinggi (high-density polyethylene/HDPE) asal Indonesia, dikecualikan dari pengenaan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP)/safeguard dutyke Filipina.

Melansir dari kemendag.go.id, pada Kamis (14/7), Otoritas Filipina, Tariff Commission (TC), telah merekomendasikan pengecualian pengenaan BMTP, terhadap impor HDPE berbentuk pelet dan granula asal Indonesia pada 27 Juni 2022.

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menyambut baik hasil rekomendasi ini. Menurut Zulhas, rekomendasi pengecualian ini memberikan harapan bagi produk HDPE Indonesia, untuk tetap dapat bersaing di pasar Filipina.

“Rekomendasi Otoritas Filipina ini, menjadi bagian dari komitmen pemerintah mengupayakan peningkatan ekspor dengan cara menjaga akses pasar di negara mitra dagang. Hal ini tentu saja memberi peluang bagi produk HDPE Indonesia, untuk tetap dapat bersaing di pasar Filipina,” ujar Zulhas.

Dalam laporan akhirnya, TC merekomendasikan untuk mengenakan BMTP sebesar 2%, terhadap produk HDPE yang masuk ke Filipina.

Namun, Indonesia dikecualikan dari pengenaan tersebut, karena telah memenuhi ketentuan Article 9.1 Agreement in Safeguard Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Tercatat, pasar impor asal Indonesia sebagai negara berkembang, tidak melebihi 3%, atau secara kumulatif tidak melebihi 9% dari total impor negara-negara berkembang, yang pangsa impornya kurang dari 3%.

Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono, berharap produk Indonesia tetap dapat bersaing di pasar Filipina.

Sementara itu, Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag, Natan Kambuno, mengingatkan agar Indonesia tetap harus mengamati agresivitas negara mitra dagang, termasuk Filipina, dalam menginisiasi penerapan instrumen trade remedies.

“Kita perlu terus amati perkembangannya, mengingat saat ini banyak negara mitra dagang yang cukup agresif dalam menggunakan instrumen trade remedies. Sampai dengan semester pertama tahun 2022, Kementerian Perdagangan telah menangani 34 kasus tuduhan trade remedies, dari 14 negara mitra dagang,” lanjut Natan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor produk HDPE Indonesia ke Filipina untuk kode HS 3901.20.00 pada periode 2017–2021, menunjukkan peningkatan ekspor dengan tren sebesar 31,43%.

Nilai ekspor pada 2017 adalah sebesar USD 2,8 juta, pada 2020 sebesar USD 4,1 juta, dan pada 2021 sebesar USD 6,1 juta. (LH/L44)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *