Lensa MancaLensa Terkini

Ditemukan di Negara Tetangga, Bagaimana Kasus Cacar Monyet di Indonesia?

World Health Organization (WHO) memperingatkan terkait penemuan kasus Monkeypox alias cacar monyet. Setelah AS, baru-baru ini pemerintah Australia menemukan sebuah kasus Monkeypox, di wilayah Melbourne, dikutip dari CNBC Internasional, Sabtu (21/5).

Virus yang pertama kali ditemukan di Australia ini, memiliki kemiripan dengan cacar air. Untungnya, penularan dan kematian dinilai tidak terlalu membahayakan. Hanya saja, cacar ini dapat menular dari orang ke orang, namun sumber utamanya adalah hewan primata, tikus, dan tupai yang terinfeksi.


Lantas, bagaimana dengan cacar monyet di Indonesia?

Selain Australia, sejumlah negara juga sudah melaporkan penemuan kasus cacar monyet yang dialami warganya. Beberapa negara tersebut antara lain yaitu Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Portugal, Spanyol, dan Singapura.

Hingga saat ini belum ditemukan kasus cacar monyet di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih melakukan upaya penelusuran penyakit Monkeypox ini, menyusul adanya laporan penemuan kasus di sejumlah negara termasuk Asia.

Meskipun tergolong penyakit langka dan sulit menular, namun masyarakat diminta waspada terhadap penyebaran kasus tersebut. Sebab Indonesia juga termasuk daftar negara yang rentan terhadap penyebaran cacar monyet.

Untuk menghindarinya, masyarakat diimbau melakukan hidup bersih, menjauhi orang yang terinfeksi Monkeypox, dan selektif jika bermain dengan hewan yang dapat menularkan penyakit cacar monyet.

Cacar monyet akan muncul di tubuh setelah 5-21 hari seseorang terinveksi virus Monkeypox. Adapun gejala awal dari cacar monyet yang akan dirasakan seperti, demam, letih dan lesu, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening. (RPN/L44)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *